Hilangnya Pesawat Air Asia QZ8501 pada minggu pagi yang hingga kini masih belum jelas keberadaannya menimbulkan banyak spekulasi.
Diantara beberapa spekulasi adalah, saat sedang terbang, pesawat Air Asia QZ8501 menghindari awan Cumulonimbus. Awan Cumulonimbus yang dimaksud tersebut ternyata tidak ditemui oleh tujuh (7) pesawat lain yang berdekatan dengan terbangnya Pesawat Air Asia tersebut.
Tujuh pesawat lain yang terbang di jalur yang sama, tiga diantaranya adalah searah dengan terbangnya QZ8501, tiga lainnya bersilangan, dan satu pesawat lagi jalurnya sama sekali beririsan. Pesawat itu diantaranya, Uni Emirates Arab 406 (jurusan Melbourne-Kuala Lumpur), AirAsia 502 (Denpasar-Singapura) dan AirAsia 550 (Denpasar-Kuala Lumpur) dan lain-lainnya. (Detik.com)
Jika kemungkinan ini benar, maka AirAsia terbang dengan kerendahan paling rendah sehingga dia bertemu dengan awan cumulonimbus tersebut. Jika tidak, lalu kenapa bisa menghilang?
Spekulasi selanjutnya adalah simpang siur adanya berita dari pengguna social media di China yang sejak tanggal 15 Desember selalu memberitahukan agar menghindari Pesawat AirAsia karena akan ada penjatuhan yang disengaja. Pengguna itu mengunggah dalam bahasa China, terus-menerus mengingatkan untuk menjadi penerbangan AirAsia, menurutnya ini adalah ulah Amerika Serikat untuk menghancurkan bisnis penerbangan Malaysia – Indonesia setelah terjadi dahulu jatuhnya MH370 Malaysia Airlines.
Spekulasi lainnya, bahwa ada sabotase terorisme, dimana Indonesia termasuk daerah yang kurang aman dari terorisme, terutama setelah munculnya video ISIS yang menantang TNI dan Banser serta para jajaran kepolisian Indonesia.
Namun, yang bisa dipastikan bahwa, pesawat AirAsia tersebut mendarat disuatu tempat dikarenakan sesuatu hal. Ada spekulasi selanjutnya bahwa pesawat mendarat dilautan. Karena, ada sebuah foto yang diunggah di Facebook, bahwa pesawat itu telah terdampar di pantai Belitung Timur.
Diantara beberapa spekulasi adalah, saat sedang terbang, pesawat Air Asia QZ8501 menghindari awan Cumulonimbus. Awan Cumulonimbus yang dimaksud tersebut ternyata tidak ditemui oleh tujuh (7) pesawat lain yang berdekatan dengan terbangnya Pesawat Air Asia tersebut.
Tujuh pesawat lain yang terbang di jalur yang sama, tiga diantaranya adalah searah dengan terbangnya QZ8501, tiga lainnya bersilangan, dan satu pesawat lagi jalurnya sama sekali beririsan. Pesawat itu diantaranya, Uni Emirates Arab 406 (jurusan Melbourne-Kuala Lumpur), AirAsia 502 (Denpasar-Singapura) dan AirAsia 550 (Denpasar-Kuala Lumpur) dan lain-lainnya. (Detik.com)
Jika kemungkinan ini benar, maka AirAsia terbang dengan kerendahan paling rendah sehingga dia bertemu dengan awan cumulonimbus tersebut. Jika tidak, lalu kenapa bisa menghilang?
Spekulasi selanjutnya adalah simpang siur adanya berita dari pengguna social media di China yang sejak tanggal 15 Desember selalu memberitahukan agar menghindari Pesawat AirAsia karena akan ada penjatuhan yang disengaja. Pengguna itu mengunggah dalam bahasa China, terus-menerus mengingatkan untuk menjadi penerbangan AirAsia, menurutnya ini adalah ulah Amerika Serikat untuk menghancurkan bisnis penerbangan Malaysia – Indonesia setelah terjadi dahulu jatuhnya MH370 Malaysia Airlines.
Spekulasi lainnya, bahwa ada sabotase terorisme, dimana Indonesia termasuk daerah yang kurang aman dari terorisme, terutama setelah munculnya video ISIS yang menantang TNI dan Banser serta para jajaran kepolisian Indonesia.
Namun, yang bisa dipastikan bahwa, pesawat AirAsia tersebut mendarat disuatu tempat dikarenakan sesuatu hal. Ada spekulasi selanjutnya bahwa pesawat mendarat dilautan. Karena, ada sebuah foto yang diunggah di Facebook, bahwa pesawat itu telah terdampar di pantai Belitung Timur.
Terlepas itu semua, kita mendoakan yang terbaik agar bencana ini segera berakhir dengan baik, amin.
No comments:
Post a Comment